MIMPI


Malam terasa berat menyesak

Seolah gelap melenyapkan segala impian yang seharusnya ada kala petang menjelang

Kehabisan mimpi...

Pengembara itu seperti kehabisan mimpi yang tak kunjung datang

Ia melangkah tanpa arah ataupun tujuan

Bersama angin dan debu yang menjadi satu

Setapak lalu terhenti…

Ia tak tahu seberapa jauhkah lagi perjalanannya

Ia merasa terombang-ambing di lautan kebingungannya...

Padahal disana ketika malam tiba...

Sang Penguasa menciptakan bintang untuk ia baca

Tuk menuntun langkahnya…

Tapi pengembara itu terus saja melangkah tanpa arah…

Siang berganti malam...

Malam berganti siang...

Berpuluh-puluh bahkan hampir beratus bintang tak ia hiraukan...

Ia hanya sibuk meneliti jalan di bawahnya menghindari kerikil-kerikil kecil yang mungkin bisa melukainya

Hingga di ujung malam

Masih tanpa mimpi

Ia melihat ke langit yang tak pernah ia sapa

Betapa takjubnya ia melihat bentangan layar hitam dengan ratusan bahkan ribuan benda berkilau

Ia baru menyadari bahwa ia tak sendiri...

Ada yang bersamanya di atas sana...

Bukan... bukan hanya di atas sana

Di sampingnya, di depannya di belakangnya...

Dimanapun ia menghadapkan wajahnya...

Bahkan ketika ia memejamkan matanya...

Ia ternyata tetap ada, di sana.. di hatinya....

Tiba-tiba ia merasa malu...

Malu pada bintang, rembulan, lautan, gunung, matahari...

Lebih malu lagi ia pada Maha Pencipta

Malu karena ia telah membiarkan langkah-langkahnya hampa...

Malu atas ketidakpeduliannya...

Dan ketika cahaya rembulan berganti sejuknya pagi

Ia tahu kemana ia akan melangkah

Ia yakin...

Kini ia punya mimpi

Dengan kaki, dengan hati...

Di gores pada 4 Agustus 2008

0 comments: